Jumat, 02 Desember 2011

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Oleh: Taufik AG

Hijrah Membangun Masyarakat Madani
Tahun baru Hijriyah sebagai tonggak awal kebangkitan Islam dan umat muslim ditandai dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Hijrah menjadi sebuag simbol kebangkitan Islam karena dengan kehidupan di wilayah baru (darul hijrah) di Yatsrib yang
kemudian dirubah dengan nama baru “Madinah” maka Islam dapat menjadi kekuatan baru dan dapat memancarkan cahaya ilahi dengan misi mencerahkan dunia. Menurut al-Mubarakfury peristiwa Hijrah bukan sekedar bermakna membangun basic dakwah yang baru untuk menghindari fitnah dan cacian, namun juga bermakna mendirikan masyrakat baru dalam sebuah negeri yang aman. Membangun masyarakat baru atas dasar konstitusi dan kultur Islam yang lebih tenar disebut dengan “masyarakat madani” atau civil society.
Pembentukan masyarakat baru yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi dan sebagai pemimpin negara yaitu masyarakat Islam sangatlah berbeda dengan masyarakat jahiliyyah, memiliki keistimewaan dibandingkan dengan komunitas sosial manapun yang ada di dunia. Masyarakat yang heterogen dan multikultur bernaung di bawah panji “Piagam Madinah” yang disarikan dari nilai-nilai esensial yang ada dalam Qur’an dan Sunnah sebagai dasar hukum Islam. (Sirah al-Mubarakfury : Hal : 241)

Hijrah Menggapai Mahabbatullah
Hijrah adalah perintah sang khaliq yang dititahkan langsung kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Perintah Hijrah adalah “batu ujian” bagi kita untuk menguji maqam mahabbah (cinta) dalam istilah tasawuf, cinta seorang hamba terhdap Allah dan RasulNya. Masihkan ada bibit dan buah rasa cinta tertanam kokoh dalam sanubari ?, mampukah rasa cinta kita kepada Allah dan RasulNya mereduksi rasa cinta kepada harta, tahta dan jabatan yang kita miliki ?. Dalam sejarah, sahabat Rasulullah rela meninggalkan harta benda berupa kebun, tanah, ternak dan perniagaan mereka demi meraih kecintaan (mahabbah) yang hakiki. Kecintaan hakiki hanya dapat diraih dengan ketaataan hakiki dan keikhlasan hakiki yang diimplementasikan secara nyata dengan ikut hijrah bersama Rasul. Mereka yakin bahwa perintah Allah harus diletakkan di atas segala-galanya tanpa rasa berat dan keberatan sedikit¬pun. Pendek kata, seorang muhajir harus membuktikan bahwa dia untuk mencapi tingkat mahabbah yang kikiki harus diraih dengan hijrah tanpa tendensi terhdap keduniaan sedikitpun, seperti untuk keuntungan niaga, mendapatkan wanita dll. Ada sahabat yang bernama Umu Qais berhijrah karena wanita, Rasulullah mensinyalir dengan sabdaNya :”Dan barang¬siapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari dan wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR Buhari Muslim).

Dari “Hijrah makani” ke “Hijrah amaliah”
Hijrah harus dimaknai secara komprehensif dalam perspektif yang dinamis. Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dan sahabatNya seperti dalam uraian diatas hijrah (perpindahan) dari satu tempat/wilayah ke tempat/wilayah yang lain untuk mencapai kegemilangan dalam gerakan dakwah Islam dan pembentukan kekuatan politik umat Islam sesuai kebutuhan saat itu. Hijrah seperti ini cenderung kita sebut dengan “Hijrah Makany”.
Guna merevitalisasi nilai-nilai universal yang ada dalam konsep “hijrah” maka paradigma berpikir harus dikondisikan dengan suasana kekinian dan dinamika umat Islam dewasa ini. Maka menurut penulis hijrah amaliah harus dihidupkan dan dilestarikan sepanjang zaman mengikuti dinamika perilaku (amaliah) umat Islam, tidak dibatasi oleh lenyapnya ruang dan waktu. Dewasa ini ketika umat Islam sudah memiliki supremasi dalam wilayah otoritas negaranya sendiri dan memainkan peran aktif di dalamnya, maka nilai dan konsep hijrah bermetamorfosis sesuai dengan dinamika zamannya. Transformasi karakter, moral dan amaliah umat Islam harus dimulai dengan memahami konsep hijrah secara proporsional. Yang terpenting bagi umat Islam saat ini berhijrah dari nilai jahiliyah ke nilai Islam, dari mental kemalasan ke mental kreatif, dari perangai keburukan ke perangai kebaikan, dari sifat “suka menzhalimi” ke sifat “suka melindungi”. Intinya sebagai umat islam kita harus berhijrah atau berubah atau merubah diri dari pola pikir dan tingkah laku jasamani dan rohani yang negatif menjadi muslim yang hijrah ke dalam kesholehan secara kaffah. Sehingga menurut Nabi SAW bahwa orang seprti ini juga disebut muhajir : “Orang yang Hijrah (Muhajir) adalah orang yang berhijrah (berpindah) dari hal-hal yang dilarang oleh Allah” (al-Hadits)

Rayakan Tahun Baru Hijriyah dengan Cara Islami
Tahun baru Hijriyah yang merupakan momentum yang tepat bagi umat Islam untuk mengapresiasi makna hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Salah bentuk apresiasi hendaknya umat Islam mengisi tahun baru hijriyah dengan tradisi yang dilandasi nilai-nilai Islam, dengan kegiatan-kegiatan yang positif untuk menyiarkan ajaran Islam. Umat Islam harus harus memberi teladan bahwa tahun baru Islam tidak identik dengan tradisi perayaan yang ada pada tahun baru yang lain misalnya tahun baru Masehi, perayaan yang terkesan glamour, foya-foya dan memunculkan kemaksiatan dalam bentuk yang baru. Boleh melakukan perayaan bukan sebatas ceremoni, tetapi harus memiliki nilai-nilai impresif (ta’tsir) yang tinggi bagi generasi muda. Kita
tidak boleh bertasyabuh (meniru) gaya orang lain dalam perayaan 1 Muharram 1433 H se¬hingga dapat menimbulkan kegamangan bagi generasi sehingga sulit membedakan kesan-kesan moral yang terkandung dalam kegiatan ter¬sebut. Tahun Hijriyah harus dirayakan dengan gaya yang mulia dan terhormat setinggi dan semulia agama Islam sebagai Rahmatan lil ala¬min. Rasulullah mengingatkan kita :”Barang¬sia¬pa yang meniru (menyerupai) suatu umat maka dia termasuk golongan mereka”. (al-Hadits).

Muhasabah di Awal tahun baru Hijriyah
Momen tahu baru Hijriyah sangatlah tepat bagi kita untuk berbenah, bermuhasabah atau lebih tepat dengan sebutan introspeksi diri. Muhasabah sebagai upaya untuk menutup dan mengakhiri “lembaran lama” perjalanan hidup dan rekam jejak kita selama setahun sebelum¬nya, serta membuka dan memulai “lembaran baru” yang lain untuk mendesain dan memeneij masa yang lebih cemerlang dan berkualitas.
Umat Islam harus memulai tahun baru hijriyah dari 1 Muharram sebagai bentuk kebanggaan kita terhadap produk sejarah peradaban Islam yang dicetuskan oleh pertama kali oleh Khalifah Umar Bin Khattab. Muhasabah terhadap amaliah berupa karya,dedikasi dan prestasi dianalisa dan stresing untuk dipertahan¬kan dan bila perlu ditingkatkan pencapaian hasilnya. Bisa dijadikan motivasi bagi penca¬paian hasil amaliah yang lebih berbobot dimasa yang akan datang. Demikian seperti sabda Nabi :”Instrospeksilah dirimu sebelum diintrospeksi oleh Allah, dan timbanglah amalanmu sebelum ditimbang oleh Allah”. (H.R Turmudzi).
Dengan tahun baru Hijriyah ini, kita bisa me¬mun¬culkan optimisme yang tinggi untuk lebih berkinerja dan berdedikasi secara nyata dengan sebuah prinsip hari ini harus lebih baik dari hari ke¬marin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.
Dalam bulan Muharram ini kita harus membuat planning untuk kita laksa¬nakan ke depannya berupa program-program unggulan sesuai profesi dan keahlian kita. Beta¬pa pentingnya program itu bagi kita, tetapi juga harus diiringi dengan sebuah strartegi dan pen¬dekatan yang jitu yang harus kita lakoni untuk mencapai tujuan. Moga Allah menuntun kita dengan petunjukNya. Wallahu a’lam bishowab

Penulis : Guru MAN 2 Kota Bima dan Anggota Majlis Tabligh PDM Kab. Bima

0 komentar:

Poskan Komentar